Tuhan Sudah Terlalu Murah Hati, Kita Saja yang Lupa Menghitung.

Ketika Agama & Spiritualitas Jadi Tempat Lari, Bukan Tempat Bertumbuh.

Aku perlu jujur pada diriku yang dulu. Bukan untuk menyalahkan, tapi untuk tidak mengulang pola yang sama dengan bungkus baru. Dulu, aku mendekati agama dan spiritualitas bukan dari kedewasaan, tapi dari kelelahan. Aku capek:

  • capek gagal,
  • capek bingung,
  • capek merasa tidak cukup,
  • capek menghadapi kenyataan yang tidak bisa aku kendalikan.

Dan di titik itu, agama terasa seperti ruang aman.
Spiritualitas terasa seperti jalan pintas menuju ketenangan.

Masalahnya: yang aku cari saat itu bukan kebenaran,
tapi pelarian yang terdengar suci.


Pola yang Baru Kusadari Belakangan

Sekarang aku bisa melihatnya dengan lebih jujur. Aku dulu:

  • lebih sering berdoa daripada berbenah,
  • lebih sering menyerahkan pada Tuhan daripada bertanggung jawab,
  • lebih suka narasi “ujian” daripada mengakui kesalahan pola hidup.

Bukan karena agama salah.
Tapi karena aku menggunakannya secara tidak dewasa.

Agama dan spiritualitas aku jadikan:

  • bantalan emosi,
  • peredam kecemasan,
  • alasan untuk menunda perubahan nyata.

Dan itu berbahaya — karena terlihat saleh, tapi sebenarnya stagnan.

HARGA RP.0,- KLIK DOWNLOAD EBOOK PDF

DAPATKAN KAWAN EBOOK PREMIUM LAINNYA DISINI <=

Leave a Comment