Mengapa Alam Semesta Terasa Tidak Peduli.

Banyak orang merasa alam semesta itu kejam. Gempa tidak memilih korbannya. Penyakit tidak menanyakan apakah seseorang baik atau jahat. Hujan tidak menunggu panen siap dipetik. Matahari tetap terbit meski ada manusia yang hidupnya runtuh hari itu.
Dari pengalaman-pengalaman seperti ini, muncul dua reaksi ekstrem. Sebagian orang memuja alam semesta, menganggapnya sadar, penuh pesan, dan bisa “diajak kerja sama”. Sebagian lain membencinya, merasa hidup tidak adil dan semesta tidak punya belas kasih.
Padahal, di balik dua sikap emosional itu, ada satu karakter dasar alam semesta yang sering diabaikan: alam semesta itu impersonal.
Ia tidak berniat menyiksa, tidak berniat menolong, dan tidak sedang mengirim pesan pribadi. Ia hanya bekerja sesuai hukum yang konsisten. Dan justru di situlah kuncinya: alam semesta tidak perlu dipercayai atau dimaknai secara mistik, ia perlu dipahami.
Apa Arti “Impersonal” dalam Konteks Alam Semesta
Impersonal berarti tidak personal. Tidak punya niat, tidak punya emosi, dan tidak punya preferensi moral. Alam semesta tidak tahu siapa kamu. Ia tidak peduli apakah kamu orang baik, rajin beribadah, atau penuh niat mulia.
Hukum alam bekerja sama terhadap siapa pun:
- Gravitasi menarik semua benda
- Api membakar siapa saja
- Air mengalir ke tempat rendah
- Tubuh sakit jika dirawat sembarangan
Tidak ada niat jahat di sana. Tidak ada pahala atau hukuman. Yang ada hanyalah sebab dan akibat.
Alam semesta tidak bertanya mengapa kamu jatuh. Ia hanya menjalankan hukum gravitasi. Jika kamu memahami hukumnya, kamu berhati-hati. Jika kamu mengabaikannya, akibat tetap terjadi.
Kesalahan Umum: Mempersonalkan Alam Semesta
Banyak manusia tanpa sadar mempersonalkan alam semesta. Kita berkata:
- “Semesta sedang menguji aku”
- “Semesta sedang mengajar aku”
- “Semesta tidak berpihak padaku”
Kalimat-kalimat ini terasa dalam dan puitis, tetapi sering kali menyesatkan. Alam semesta tidak menguji dan tidak mengajar. Ia hanya menampilkan konsekuensi.
Ketika seseorang terus-menerus hidup dengan kebiasaan buruk lalu jatuh sakit, itu bukan ujian. Itu akibat biologis. Ketika seseorang mengabaikan realitas ekonomi lalu hidupnya kacau, itu bukan hukuman. Itu konsekuensi sistem.
Mempersonalkan alam semesta membuat manusia berhenti belajar mekanisme dan mulai mencari makna emosional semata.
Alam Semesta Tidak Mengenal “Layak” dan “Tidak Layak”
Salah satu konflik batin terbesar manusia adalah konsep kelayakan. Kita sering berpikir:
- “Aku tidak pantas mengalami ini”
- “Dia tidak layak mendapatkan itu”
Masalahnya, alam semesta tidak mengenal konsep layak atau tidak layak. Ia tidak menilai karakter. Ia merespons tindakan dan kondisi.
Pohon tumbuh subur bukan karena ia layak, tetapi karena tanah, air, cahaya, dan waktu mendukung. Pohon mati bukan karena ia jahat, tetapi karena syarat hidupnya tidak terpenuhi.
Manusia tidak berbeda secara prinsip. Yang berbeda hanya kemampuan kita menambahkan cerita emosional di atasnya.
Mengapa Orang Baik Tetap Bisa Menderita
Ini pertanyaan klasik yang sering membuat orang kecewa pada hidup. Jawabannya sederhana, meski tidak selalu nyaman: kebaikan moral tidak otomatis selaras dengan hukum alam.
Orang baik bisa:
- Kurang tidur dan jatuh sakit
- Salah mengambil keputusan dan rugi
- Mengabaikan batas tubuh dan burnout
Alam semesta tidak melindungi siapa pun dari konsekuensi biologis, fisik, atau sistemik hanya karena niatnya baik. Ini bukan kejam. Ini konsisten.
Alam Semesta dan Tubuh Manusia
Tubuh manusia adalah contoh paling dekat dari alam semesta yang impersonal. Tubuh tidak bisa dibohongi dengan niat. Kamu bisa berharap sehat, tetapi jika:
- Kurang tidur
- Makan sembarangan
- Stres terus-menerus
Tubuh akan merespons dengan sakit, lelah, atau rusak. Bukan karena tubuh membenci kamu, tetapi karena tubuh patuh pada hukum biologis.
Tubuh tidak membaca afirmasi. Tubuh membaca kebiasaan.
Alam Semesta Tidak Peduli pada Keyakinan, Tapi Patuh pada Pola
Keyakinan sering disalahpahami sebagai pengganti sebab. Orang berharap cukup dengan percaya, semesta akan mengatur sisanya.
Padahal, keyakinan hanya berguna jika:
- Mengarahkan tindakan
- Menjaga konsistensi
- Membantu bertahan dalam proses
Tanpa tindakan yang selaras, keyakinan tidak punya daya. Alam semesta tidak merespons keyakinan, ia merespons pola.
Apa yang diulang, diperkuat. Apa yang diabaikan, melemah. Apa yang dilanggar, berakibat.
Alam Semesta Bukan Mesin Keinginan
Banyak ajaran populer menggambarkan alam semesta seperti katalog keinginan. Seolah cukup meminta dengan cara tertentu, lalu semesta mengabulkan.
Masalahnya, alam semesta bukan mesin permintaan. Ia adalah mesin hukum. Ia tidak bekerja berdasarkan apa yang kamu inginkan, tetapi berdasarkan apa yang kamu lakukan dan kondisikan.
Jika seseorang ingin panen, ia tidak bisa hanya memvisualisasikan hasil. Ia harus menanam, merawat, dan menunggu. Alam semesta tidak mempercepat musim hanya karena manusia ingin cepat.
Waktu sebagai Wajah Alam Semesta
Waktu adalah salah satu bentuk paling nyata dari sifat impersonal alam semesta. Ia berjalan tanpa berhenti. Ia tidak menunggu kesiapan. Ia tidak peduli penyesalan.
Alam semesta tidak memberi tanda kapan sesuatu akan matang. Ia hanya memastikan bahwa apa yang ditanam akan tumbuh sesuai waktunya. Manusia sering menyebut ini takdir, padahal sering kali itu hanya proses yang tidak disadari.
Mengapa Hidup Terasa Tidak Adil
Hidup terasa tidak adil ketika manusia mencampuradukkan dua hal:
- Hukum alam yang netral
- Harapan moral yang personal
Ketika harapan tidak terpenuhi, manusia menyalahkan alam semesta. Padahal, alam semesta tidak pernah berjanji untuk adil menurut standar manusia.
Ia hanya konsisten.
Alam Semesta Tidak Menghukum, Tapi Mengoreksi
Apa yang sering disebut hukuman sebenarnya adalah koreksi alami. Jika seseorang hidup di luar batas tubuh, tubuh memberi sinyal sakit. Jika seseorang mengabaikan realitas, hidup menjadi sulit.
Ini bukan pembalasan. Ini umpan balik.
Alam semesta memberikan umpan balik tanpa emosi. Kita yang menafsirkannya sebagai hukuman atau cobaan.
Kesalahan Fatal: Melawan Alam, Bukan Memahaminya
Banyak penderitaan manusia muncul bukan karena alam semesta jahat, tetapi karena manusia melawan cara kerjanya.
Melawan batas tubuh.
Melawan hukum waktu.
Melawan realitas ekonomi.
Melawan sebab-akibat.
Padahal, hidup menjadi jauh lebih ringan ketika seseorang berhenti melawan dan mulai menyelaraskan diri.
Cara Bersahabat dengan Alam Semesta yang Impersonal
Bersahabat bukan berarti memuja atau membenci. Bersahabat berarti memahami dan menghormati hukum yang ada.
Beberapa prinsip sederhana:
- Alam semesta tidak punya niat pribadi.
- Alam semesta merespons sebab, bukan harapan.
- Alam semesta memperbesar apa yang diulang.
- Alam semesta tidak menghukum, tetapi memberi konsekuensi.
- Alam semesta netral, tetapi dampaknya nyata.
Menggeser Cara Pandang: Dari Mistik ke Mekanisme
Ketika seseorang berhenti bertanya, “kenapa semesta melakukan ini padaku,” dan mulai bertanya, “hukum apa yang sedang bekerja,” hidupnya berubah.
Ia berhenti drama.
Ia mulai observasi.
Ia belajar membaca pola.
Dan di situlah kedewasaan hidup dimulai.
Penutup: Ketidakpedulian yang Membebaskan
Fakta bahwa alam semesta impersonal sering terdengar dingin. Namun justru di sanalah kebebasan manusia.
Karena alam semesta tidak peduli:
- Kamu tidak ditandai selamanya oleh masa lalu
- Kamu tidak dihambat oleh label
- Kamu selalu bisa menciptakan sebab baru hari ini
Alam semesta tidak mengingat cerita hidupmu. Ia hanya merespons apa yang kamu lakukan sekarang dan seterusnya.
Dan ketika kamu berhenti mempersonalkan alam semesta dan mulai memahami cara kerjanya, hidup terasa lebih tenang, lebih jujur, dan lebih masuk akal.
Kalimat Penutup
Alam semesta tidak bisa dibujuk, tidak bisa dikasihani, dan tidak bisa disalahkan. Ia hanya bekerja sesuai hukum yang konsisten. Ketika kamu berhenti berharap pada keajaiban emosional dan mulai menyelaraskan diri dengan mekanismenya, hidup tidak selalu mudah, tetapi menjadi jauh lebih jelas.